![]() |
| Photo Ilustrasi Syaikhona Muhsin Al-Baliqowy: Sufi Agung, Paku Bumi Mahaguru Para Kiyai. |
Syaikhona
Muhsin Al-Baligowy (1802-1911 M): Sufi, Paku Bumi Mahaguru Para Kyai
Muhammad Rizki Taufan yang merujuk kepada
Valentijn (1726) Sampang dalam Arus Sejarah: Lintasan Zaman, Tokoh Sentral
dan Geneologi Monarki menyebutkan, pasca Perang Trunajaya (1674-1680 M) ibu
kota Madura dipindah dari Sampang ke Maduretna (Tonjhung, Burneh). Ketika itu,
terdapat enam kota di Madura, yaitu Maduretna, Arosbaya, Blega, Sampang,
Pamekasan dan Sumenep.
Fakta sejarah yang demikian itu salah satunya
menunjukkan posisi Blega yang penting dan strategis dalam sejarah Madura. Saat
ini, Blega merupakan nama salah satu kecamatan yang ada di Bangkalan,
berbatasan dengan Kabupaten Sampang. Karena posisi yang strategis dan penting
dalam sejarah, Blega menjadi salah satu tujuaan pendatang dari mancanegara yang
akan mendatangi pulau Madura di masa lalu.
Blega, Perang Saudara dan Cerita tentang Bau
Anyir Darah
Pasca wafatnya Panembahan Lemah Duwur (w.
1592-M), putranya yang bernama Pangeran Tengah (1592-1620 M) menggantikan
ayahnya, anak yang lain yaitu Pangeran Blega diberi peran memimpin tanah yang
kemudian diberi nama Blega. Pangeran Blega, seorang “Saudara dari Timur” itu
telat membayar upeti tahunan yang kemudian dimaknai sebagai pembangkangan oleh
Arosabaya. Situasi yang kemudian menjadi penyebab pecahnya perang antara
Arosbaya dan Blega.
Kemenangan yang diusahakan oleh pasukan dari
Arosabaya tapi selalu gagal sampai beberapa kali. Pangeran Tengah mengirim
banyak pasukan ke Blega dengan senjata lengkap, yang kemudian tidak bisa hanya dimaknai
sebagai usaha menarik upeti. Peperangan sengit pecah. Putar balik (abaliggha)
pasukan menjadi cerita tutur tentang asal penamaan Blega, yang berarti putar
balik pasukan Arosbaya dari Blega. Walau pada akhirnya, Keraton Blega tunduk
kepada Pangeran Tengah yang pasca wafatnya, Arosbaya dipimpin adik yang lain dari Pangeran Tengah. Raden
Praseno putra Pangeran Tengah dibawa ibunya ke Madegan Sampang.
Dalam Sejarah Sayyid Abu Bakar Al-Iraqi,
Raden Kyai Haji Moh. Ibrahim Musaddad Djuwaini menulis sebuah cerita tutur yang
disampaikan oleh Kyai Haji Zarkasi, disampaikan juga oleh putranya, yaitu Kyai
Haji Dahlawi Zarkasi tentang Kyai Muzakki atau Bhujuk Batoh Kolong yang
memiliki beberapa putra, salah satunya adalah Kyai Shoheh (Bhuju’ Shoheh). Kyai
Shoheh ketika pertama kali mencari kawasan untuk memulai dakwahnya, Kyai
Muzakki membantunya mencarikan kawasan untuk putranya itu, dan sesampainya di tanah
bernama Blega, Kyai Muzakki mencium aroma amis, kemudian ia berkata kepada
putranya, “Ella Kakeh jhe’ adakwah edinnak, edinna’ benni kennengah kakeh,
kakeh ta’ kerah mampu.” Artinya, “Jangan, Kamu jangan berdakwah di tanah ini,
tanah ini bukan tempatmu, Kamu tidak akan mampu.” Pada akhirnya, Kyai Shoheh
memang berdakwah di kawasan lain yang hari ini disebut dengan daerah Tlokoh.
Sebuah Sejarah Awal Pondok Pesantren Planggharan
Dalam Sejarah Sayyid, salah satu
pendatang mancanegara yang mengunjungi kemudian menetap di tanah Blega adalah
Sayyid Abu Bakar Al-Iraqi. Sekitar tahun 1795-M, Sayyid Abu Bakar yang lahir
pada tahun 1770-M pertama kali mendatangi Blega dengan motivasi penyebaran
Islam, pendidikan, kepesantrenan dan dakwah Islam. Sayyid Abu Bakar Al-Iraqi datang
ke Madura bersama dengan seorang saudaranya yang kemudian memilih menetap di
kota Pamekasan. Sayyid Abu Bakar Al-Iraqi menikahi seorang perempuan dari
Mlajeh Bangkalan bernama Nyai Yamani.
Aktivitas dakwah pertama kali Sayyid Abu Bakar
sangat berhubungan dengan aktivitas dalam sebuah masjid yang saat ini lebih
dikenal dengan Masjid Al-Jihad Blega. Sayyid Abu Bakar menjadi takmir Masjid
Al-Jihad yang pertama kali, mengajarkan masyarakat sekitar dasar-dasar
keislaman dan melaksanakan rukun Islam seperti shalat lima waktu.
Sayyid Abu Bakar Al-Iraqi memiliki seorang
putri bernama Syarifah Marni yang pada akhirnya menikah dengan seorang ulama,
yaitu Syaikhona Muhsin Al-Baliqowi.
Syaikhona Muhsin lahir dengan nama daging
Muhsin, namanya mengandung harapan dari kedua orang tuanya, semoga kelak putranya
menjadi seorang yang baik dan membawa kebaikan, saleh, ahli ibadah dan menjadi
seorang ulama. Syaikhona Muhsin lahir di Anjun, Kedungdung, Kecamatan Modung Kabupaten
Bangkalan pada tahun 1802-M. Syaikhona Muhsin putra seorang kyai bernama Kyai Muhammad
dari Anjun.
Syaikhona Muhsin merupakan keturunan seorang
wali yang telah banyak menurunkan para ulama dan wali di Madura, yaitu Sunan
Cendana. Adapupun silsilah Sunan Cendana dari satu jalur sebagai berikut; Sunan
Cendana Bangkalan atau Raden Umar Mairi Syaikh Zainal Abidin bin Raden
Rahmatullah Al-Khatib bin Sunan Drajat Raden Qasim bin Sunan Ampel Raden
Rahmatullah bin Sayyid Ibrohim Asmoro bin Jumadil Kubro. Sedangkan nasab Sunan
Cendana dari jalur lainnya sebagai berikut; Sunan Cendana Raden Umar Mairi
Syaikh Zainal Abidin Kwanyar Bin Ny. Gede Kedaton binti Panembahan Kulon bin Kanjeng
Sunan Giri Raden Ainul Yaqin bin Maulana Ya'qub Wali Lanang Al-Masyhur bi
Maulana Ishaq bin Sayyidah Zainab binti Jumadil Kubro.
Dalam sebuah makalah berjudul Biografi
Syaikhona Muhsin Al-Baliqowy Kyai Moh. Ibrahim Musaddad Djuwaini
menyebutkan Syaikhona Muhsin lahir dan terdidik di lingkungan pesantren di
Anjun, di bawah pendidikan dari kedua orang tuanya yang memiliki pesantren di
Anjun. Kemudian, setelah dewasa langsung memulai pengembaraannya dalam mencari
ilmu. Syaikhona Muhsin menyantri di banyak pondok pesantren, tetapi yang direkam
oleh tradisi tutur tentang Syaikhona Muhsin yang menyantri di Pondok Pesantren
Cangaan Bangil yang diasuh oleh Kyai Asyik atau Kyai Abdul Latif.
Pada saat menyantri di Bangil, Syaikhona Muhsin
tinggal satu kamar dengan Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif. Di
pesantren tersebut, Syaikhona Muhsin terbilang santri senior yang diberi tugas
memberikan pengajaran kepada para santri junior. Salah satu juniornya di Pondok
Cangaan adalah Syaikhona Muhammad Kholil
bin Abdul Latif dari Bangkalan Madura.
Sepulang dari pengembaraan dalam berguru dan mencari ilmu, Syaikhona Muhsin
pulang ke Anjun Bangkalan kemudian menikahi Syarifah Marni putri Sayyid Abu
Bakar Al-Iraqi. Pernikahan yang dikaruniai empat orang putri, yaitu Nyai Rahma,
Nyai Hamidah atau Nyai Maimunah, Nyai Tuhfah dan Nyai Rohmah atau Nyai
Sufiyah.
Peninggalan, Santri dan Keturunan Syaikhona
Muhsin
Secara kultural, proses pendirian institusi
pendidikan tradisional atau pondok pesantren berpola dan tidak banyak mengalami
perubahan sejak zaman para wali sampai akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20,
pola yang kemudian berlanjut di zaman setelahnya. Para wali menjadikan kediaman
mereka sebagai pusat aktivitas keislaman, membangun tempat ibadah di
sekitarnya. Kediaman para wali bersebelahan dengan tempat ibadah, kondisi yang
demikian menjadi pola dan banyak menjadi embrio pendirian pondok pesantren di
banyak tempat, termasuk di Madura. Penulis sering menyebutnya dengan pola
tradisional-kultural.
Menurut Zamakhsyari Dhofier dalam Tradisi
Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, pesantren mempunyai ragam
elemen yang membedakannya dengan insitusi pendidikan lainnya, yaitu adanya
masjid, santri, tempat tinggal santri atau pondok, kyai dan pengajian-pengajian
berbagai kitab keislaman dari tradisi klasik. Dalam sebuah institusi, yang
kelima elemen tersebut sudah tersedia di dalamnya, institusi itu akan berubah
statusnya menjadi pondok pesantren. Syaikhona Muhsin Al-Baliqowy tidak pernah
mendirikan pondok, hanya saja bagi santri yang ingin mengaji dan mondok
kepadanya, santri harus membuat kamar sendiri.
Sekitar tahun 1840-M, Syaikhona Muhsin
mendapatkan tanah wakaf yang hari ini terletak di Dusun Kauman RT. 03 RW. 05.
Desa Blega, Kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan. Tanah yang kemudian dibangun
sebuah surau (Langghar). Sebab itu, Kawasan pesantren tersebut lebih
dikenal dan disebut Kampung Planggaran atau tempat beridirinya langgar. Tahun
1840-M menandakan banyaknya orang datang, baik dari tempat dekat atau dari
tempat jauh kepada Syaikhona Muhsin untuk mengaji dan mondok.
Kyai Ibrahim dalam Biografi menulis
panjang tentang senarai para kyai yang pernah mengaji kepada Syaikhona Muhsin
dan kepada para kyai di Planggaran setelah wafatnya Syaikhona Muhsin yang
bersumber dari tradisi tutur, terutama kepada Kyai Fathullah.
Keempat putri Syaikhona Muhsin menikah dengan
para kyai yang masih terhitung santri Syaikhona Muhsin, dan dari mereka
menyebar para keturunan Syaikhona Muhsin.
Nyai Rahma atau Nyai Sufiyah dinikahi Kyai Haji
Ali Bakri dari Junglorong, Kedungdung Sampang kemudian menempati kediaman
Sayyid Abu Bakar Al-Iraqi di Segit, Kauman, Blega, tempat yang menjadi cikal
bakal berdirinya Pondok Pesantren Al-Munawwir. Nyai Maimunah dinikahi Kyai Haji
Fathullah dari Sloros Birem Sampang, kemudian bertempat di Palanggaran Timur.
Nyai Nafisah atau Nyai Tuhfah (Nyai Bungkol) dinikahi oleh Kyai Haji Syafiuddin
yang kemudian mengembangkan Pondok Pesantren Darul Muttaqin Kebun Sari Blega.
Nyai Romlah dinikahi Kyai Haji Marzuki dari Sendeng dan sekarang disebut dengan
Planggaran Tengah. Pada awalnya, pondok pesantren peninggalan Syaikhona Muhsin
dikenal dengan Pondok Pesantren Planghgaran, saat ini sudah berkembang dan memiliki
nama masing-masing. Bagian timur menjadi Pondok Pesantren Syaikhona Muhsin Al-Baliqowy.
Bagian tengah menjadi Pondok Pesantren Al-Muhsiny. Bagian barat menjadi Pondok
Pesantren Al- As’ady.
Setelah wafatnya Syaikhona Muhsin Al-Baliqowi
pada tahun 1911-M, kepemimpinan,
aktivitas dakwah dan pengajaran Islam di Pondok Pesantren Planggaran diteruskan
oleh keluarga dan para dzurriyah Syaikhona Muhsin, dilanjutkan oleh Nyai
Sakhowah, santri Syaikhona Muhsin yang kemudian diperistri atas wasiat Syarifah
Marni sebagai istri yang pertama. Dilanjutkan oleh Raden Kyai Haji Fathullah,
Kyai Haji Marzuki, dan generasi ketiga seperti Raden Kyai Haji Imam Djuwaini,
Kyai Haji Umar Faruq, Kyai Haji Muhammad atau Kyai As’ad, sampai generasi saat
ini. Generasi yang hidup dengan sebuah tradisi dan nilai, seperti pernah
disampaikan oleh Kyai Haji Imam Djuwaini yang berakar tradisi dan nilai leluhur
Planggaran; tang nak poto kodhu ngaji
kodhu andik elmo, polana bedhe e dhimma e kaparlo oreng. Artinya, anak
keturunanku harus mengaji, harus berilmu, karena ada dimanapun diperlukan oleh
masyarakat, biar tidak menyesatkan.
Sungai Blega dan Seorang Syaikh yang Sedang
Menangkap Ikan
Syaikhona Muhsin memiliki kebiasaan menangkap
ikan di Sungai Blega di dekat kediamannya. Para calon santri yang belum pernah
bertemu dengannya sering terkecoh, tidak menyangka bahwa laki-laki tua yang
sedang menangkap ikan itu adalah Syaikhona Muhsin. Seperti yang disampaikan
Kyai Mohammad Ibrahim, “Setiap santri yang hendak mondok kepada Syaikhona
Muhsin pertama bertemu dengan Syaikhona Muhsin di pinggir Sungai Blega, sambil
membaca syair dengan bahasa yang sulit dimengerti, langka, gharib.” Salah
satu ketaladanan Syaikhona Muhsin adalah ketawaduannya, tidak merasa dirinya sebagai
seorang kyai, apalagi seorang ulama.
Diceritakan dalam Sejarah Sayyid tentang
pengalaman Kyai Fathullah ketika pertama kali akan menyantri kepada Syaikhona
Muhsin, yang pada awalnya, Kyai Fathullah akan menyantri dan mondok kepada Syaikhona
Kholil di Bangkalan. Setibanya di hadapan Syaikhona Kholil, maha guru itu
kemudian meminta Kyai Fathullah pergi ke Blega, mengaji dan mondok kepada
Syaikhona Muhsin, “Pergi ke Blega, cari kyai yang bernama Kyai Muhsin.”
Perintah yang kemudian membuatnya benar-benar
berangkat menuju Blega. Setibanya di Blega, berhenti di tribunal sungai besar
yang mirip Begawan Solo. Di sungai Blega, ada seorang tua yang sedang menangkap
ikan, dengan tubuh penuh lumpur. Kyai Fathullah bertanya, “Di mana rumah Kyai
Muhsin?” Pria tua dengan tubuh berlumur lumpur itu menjawab, "Di sini, di
Blega, tidak ada Kyai Muhsin. Kalau Muhsin ada, yaitu saya." Mendengar
tersebut, Kyai Fathullah kembali lagi ke Syaikhona Kholil Bangkalan, mengatakan
bahwa di Blega tidak ada Kyai Muhsin, mereka hanya bertemu dengan orang tua
yang sedang menangkap ikan di sungai dan bernama Muhsin.”
Dalam pengalaman itu, Syaikhona Muhsin
menangkap menggunakan jaring ikan, tapi yang didapat adalah seeokor buaya yang
kemudian dilepas kembali ke sungai. Syaikhona Muhsin melakukan itu secara terus
menerus.
"Ya,
itu Kyai Muhsin dari Blega. Ia guru saya.” Kata Syaikhona Kholil Bangkalan.
Kyai Fathullah kemudian kembali ke tanah Blega,
menyantri, mondok kepada Syaikhona Muhsin. Ternyata memang benar, Syaikhona
Muhsin dengan pria tua bertubuh penuh lumpur yang sedang menangkap ikan tapi
yang didapat selalu seekor buaya di Sungai Blega adalah orang yang sama. Dalam
waktu yang lain, Syaikhona Kholil Bangkalan pernah berkata tentang Syaikhona
Muhsin, “Kiyai Muhsin Blega orang alim allamah, beliau pakunya alam, pakunya Madura
(panconga alam-panconga Madhureh).
Bagi penulis sendiri, Syaikhona Muhsin
merupakan guru tidak langsung, karena kakek dari penulis merupakan santri dari
seorang kyai yang pernah mengaji ilmu dan hikmah kepada Syaikhona Muhsin.
Semoga kita semua, terutama para santri dan generasi muda sama-sama mendapatkan
barokahnya. Amin.
Oleh: Hasani Utsman


0 Komentar